Sistem Pranotomongso Solusi Pertahanan Pendidikan berbasis Budaya

Sistem Pranotomongso, Sistem Pranotomongso sebuah ketentuan musim dengan sistem kalender atau penanggalan yang berkaitan dengan aktivitas pertanian

Penyimpangan iklim merupakan salah satu masalah alam yang tak bisa dihindari oleh manusia akibat ulahnya sendiri. Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi perubahan iklim yang sangat terasa di bumi.

Hal ini berpengaruh pada alam dan aktivitas manusia. Salah satunya terdapat penyimpangan suhu yang mencolok yang disebut pemanasan global. Pemanasan global berpengaruh kuat terhadap iklim di Indonesia.

Berkurangnya curah hujan dan terjadinya kemarau panjang adalah dampak langsung yang bisa memicu masalah pada sektor pertanian. Terjadinya pemanasan global berdampak pada musim kemarau berkepanjangan, mengakibatkan hujan sulit diprediksi oleh petani menggunakan penanggalan Pranoto Mongso.

Keadaan alam yang semakin tidak seimbang, iklim tidak lagi dapat di prediksi melalui tanda-tanda alam. Budaya adi luhung mulai ditinggalkan. Manusia lebih memilih pola hidup modern yang sebenarnya tidak bersahabat dengan alam, hal ini menyebabkan semakin rusaknya lingkungan hidup.

Alhasil, pemanasan global menjadi perkara yang tidak dapat dihindari lagi. Hal ini berakibat pada siklus atau musim di Bumi menjadi berubah. Modernitas selain dapat menyebabkan perubahan musim, juga turut menyebabkan lenyapnya suatu kekayaan budaya yang sudah sekian lama menghidupi serta menuntun petani Jawa dalam bercocok tanam.

Figure 1. Pranotomongso System

Sirnanya Pranoto Mongso hilang di telan zaman akibat petani Dieng menggunakan sistem modern untuk mengolah perkebunannya. Mereka tidak menyadari bahwa penggunaan pupuk kimia dan alat pertanian modern tidaklah ramah lingkungan yang berdampak pada kesuburan tanah dan kerusakan ekosistem.

Aktivitas pertanian pengguaan alat-alat berbahan bakar menghasilkan berbagai zat sisa buangan yang salah satunya berupa gas. Mereka berpikir gas hilang begitu saja, dan atmosfer bisa menyerapnya secara tidak terbatas dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan.

Sebenarnya gas-gas buangan tersebut dapat menyebabkan perubahan mendasar atmosfer dan kondisi kehidupan di Bumi.

Sumber informasi yang startegis melalui isu isu lingkungan yang berkembang dimasyarakat. Siswa belajar lebih bermakna karena bersifat kontekstual sekaligus dapat membekali karaker siswa melalui pelestarian budaya (Torkar, 2014).

Pentingnya strategi dalam model pembelajaran inquiry melalui sumber lingkungan yang tetap menjunjung tinggi karakter budaya masyarakat adalah pendekatan pembelajaran etnosains.

Etnosains digunakan sebagai acuan untuk membekali siswa ilmu dan karakter yang menghargai budaya daerah (Arlianovita, Setiawan, & Sudibyo, 2015; Fitriani, 2016; Vitasurya, 2016). Pembelajaran berbasis etnosains meningkatkan keterampilan proses sains dan apresiasi siswa (Atmojo, 2012),

prestasi belajar (Okwara & Upu, 2017), dan kemampuan dalam menggunakan pengetahuan sains (Sudarmin, Mastur, & Parmin, 2014).

Melalui pembelajaran berbasis etnosains, individu semakin menguasai konsep sains dalam budaya, karena siswa belajar langsung dalam lingkungan (Becker & Park, 2011), sehingga bentuk apresiasi berupa rasa ingin tahu dan perhatian terhadap tradisi dan budaya masyarakat meningkat (Okwara & Upu, 2017).

Pembelajaran etnosains terbukti dapat meningkatkan kreatif siswa melalui sumber belajar lingkungan (A. Khoiri, Sunarno, Sajidan, & Sukarmin, 2019; Ahmad Khoiri, Kahar, & Indrawati, 2018).

Semoga Bermanfaat..

Editor: | Update: Oktober 22, 2020


Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *